Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 02 Maret 2011

Kegelisahan Manusia

PENGERTIAN KEGELISAHAN

Kegelisahan berasal dari kata gelisah, yang berarti tidak tenteram hatinya, selalu merasa khawatir, tidak tenang, tidak sabar, cemas. Sehingga kegelisahan menipakan hal yang menggambarkan seseorang tidak tenteram hati maupun perbuatannya, merasa khawatir, tidak tenang dalam tingkah lakunya, tidak sabar atau pun dalam kecemasan.
Kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingkah laku atau gerak gerik seseorang dalam situasi tertentu. Gejala tingkah laku atau gerak-gerik itu umumnya lain dari biasanya, misalnya berjalan mundar-mandir dalam ruang tertentu sambil menundukkan kepala; memandang jauh ke depan sambil mengepal-ngepalkan tangannya; duduk termenung sambil memegang kepalanya; duduk dengan wajah murung atau sayu, malas bicara; dan lain-lain.


Kegelisahan menipakan salah satu elcspirsi dari kecemasan. Karena itu dalam kehidupan sehari-hari, kegelisahan juga diartikan sebagai kecemasan, kekawatiran ataupun ketakutan. Masalah kecemasan atau kegelisahan berkaitan juga dengan masalah frustasi, yang secara definisi dapat disebutkan, behwa seseorang mengalami frustasi karena apa yang diinginkan tidak tecapai.

Kegelisahan pada diri manusia biasanya sangat erat kaitannya dengan sebuah kata “Tanggung Jawab”. Baik secara individual, sosial maupun religius. Jika usaha yang telah kita lakukan untuk mempertanggungjawabkan  mengalami kesulitan dan kendala, kegagalan atau tidak berhasil maka secara langsung otak kita akan ter-koneksi dengan yang direspon “Kegagalan dan permasalahan”. Dengan kata lain ter-koneksi dengan hati, perasaan dan pikiran. Baik disadari atau tidak disadari. Begitu pula jika yang telah dilakukan telah mencapai titik maksimum dan berhasil maka kita sendiri tidak luput dari permasalahan dan kegelisahan, sebagai contoh kegelisahan untuk mempertahankannya dan sebagainya
 

Kegelisahan dan kesedihan merupakan suatu kejahatan kembar yang datang beriringan dan bergandengan. Mereka hidup bersama-sama di dunia ini. Jika Anda gelisah, maka Anda akan merasa susah dan sedih, begitu pun sebaliknya. Kadangkala kita berupaya untuk menghindari mereka, lari dari kenyataan, tetapi tetap saja mereka akan senantiasa hadir dalam diri kita. Kejahatan kembar ini bukan untuk dihindari, tetapi bukan berarti kita membiarkan mereka untuk mengalahkan kita. Kita harus mengatasi mereka dengan usaha kita sendiri, dengan kemantapan hati dan kesabaran, dengan pengertian benar dan kebijaksanaan.

Kegelisahan yang timbul dalam diri kita sebenarnya dibuat oleh kita sendiri, kita ciptakan mereka di dalam pikiran kita melalui ketidakmampuan ataupun kegagalan untuk mengerti bahaya perasaan keakuan dan melalui khayalan yang melambung serta kesalahan dalam menilai setiap kejadian atau benda. Hanya jika kita dapat melihat suatu kejadian atau benda dengan apa adanya, bahwa tidak ada sesuatu apa pun yang kekal di dunia ini dan bahwa keakuan kita sendiri merupakan khayalan liar yang membawa kekacauan dalam pikiran yang tidak terlatih. 

Seorang ahli anatomi terkemuka dari Inggris suatu ketika ditanya oleh muridnya tentang obat terbaik untuk mengatasi ketakutan, dan jawabnya adalah, "Cobalah untuk mengerjakan sesuatu untuk orang lain." Murid tersebut merasa heran atas jawaban yang diberikan, kemudian sang guru meneruskan, "Anda tidak dapat memiliki dua pikiran yang berlawanan pada waktu yang sama, salah satu pikiran akan mengusir pikiran yang lain. Jika suatu saat pikiran sedang terpusat untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan apa pun, maka rasa ketakutan tidak akan muncul di dalam pikiran pada waktu yang sama."


Nama : Sony Novianto
NPM  : 16110655
Kelas : 1KA23

Harapan Manusia

Setiap manusia mempunyai harapan. Manusia yang tanpa harapan, berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya. Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan kemampuan masing-masing. Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan. Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agar harapan terwujud, maka perlu usaha dengan sungguh-sungguh. Manusia wajib selalu berdoa. Karena usaha dan doa merupakan sarana terkabulnya harapan.



Menurut kodratnya manusia itu adalah mahluk sosial. Setiap lahir ke dunia langusung disambut dalam suatu pergaulan hidup, yakni di tengah suatu keluarga atau anggota masyarakat lainnya. Tidak ada satu manusiapun yang luput dari pergaulan hidup. Ditengah – tengah manusia lain itulah, seseorang dapat hidup dan berkembang baik fisik/jasmani maupun mental/ spiritualnya. Ada dua hal yabg mendorong orang hidup bergaul dengan manusia lain, yakni dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup.

Maka bila manusia yang hidup tanpa harapan pada hakekatnya dia sudah mati. Harapan bukanlah sesuatu yang terucap dimulut saja tetapi juga berangkat dari usaha. Dia adalah ke-cenderungan batin untuk membuat sebuah rencana aksi, peristiwa, atau sesuatu menjadi lebih bagus. Sederhananya, harapan membuat kita berpikir untuk melakukan sesuatu yang lebih baik untuk meraih sesuatu yang lebih baik.

Harapan dan rasa optimis juga memberikan kita kekuatan untuk melawan setiap hambatan. Seolah kita selalu mendapatkan jalam keluar untuk setiap masalah. Seolah kita punya kekuatan yang lebih untuk siap menghadapi resiko. Ini kita sebut sebagai perlawanan. Orang yang hidup tanpa optimisme dan cenderung pasrah pada realita maka dia cenderung untuk bersikap pasif, Oleh karena itu dalam makalah ini kita dapat mengetahui lebih dalam tentang manusia dan harapan


Jika manusia mengingat bahwa kehidupan tidak hanya di dunia saja namun di akhirat juga, maka sudah selayaknya “harapan” manusia untuk hidup di kedua tempat tersebut bahagia. Dengan begitu manusia dapat menyelaraskan kehidupan antara dunia dan akhirat dan selalu berharap bahwa hari esok lebih baik dari pada hari ini, namun kita harus sadar bahwa harapan tidak selamanya menjadi kenyataan.

Nama : Sony Novianto
NPM  : 16110655
Kelas : 1KA23

Manusia, Hukum dan Keadilan

Untuk menciptakan keteraturan maka dibuatlah hukum sebagai alat pengatur, dan agar hukum tersebut dapat memiliki kekuatan untuk mengatur maka perlu suatu entitas lembaga kekuasaan yang dapat memaksakan keberlakuan hukum tersebut sehingga dapat bersifat imperatif. Sebaliknya, adanya entitas kekuasaan ini perlu diatur pula dengan hukum untuk menghindari terjadinya penindasan melalui kesewenang-wenangan ataupun dengan penyalah gunaan wewenang. Mengenai hubungan hukum dan kekuasaan ini, terdapat adagium yang populer: “Hukum tanpa kekuasaan hanyalah angan-angan, dan kekuasaan tanpa hukum adalah kelaliman.” 
Manusia dan hukum adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan dalam ilmu hukum, terdapat adagium yang terkenal yang berbunyi: “Ubi societas ibi jus” (di mana ada masyarakat di situ ada hukumnya). Artinya bahwa dalam setiap pembentukan suatu bangunan.
Struktur sosial yang bernama masyarakat, maka selalu akan dibutuhkan bahan yang bersifat sebagai “semen perekat” atas berbagai komponen pembentuk dari masyarakat itu, dan yang berfungsi sebagai “semen perekat” tersebut adalah hukum. Bagaimana hal ini terjadi?
Manusia, disamping bersifat sebagai makhluk individu, juga berhakekat dasar sebagai makhluk sosial, mengingat manusia tidak dilahirkan dalam keadaaan yang sama (baik fisik, psikologis, hingga lingkungan geografis, sosiologis, maupun ekonomis) sehingga dari perbedaan itulah muncul inter dependensi yang mendorong manusia untuk berhubungan dengan sesamanya. Berdasar dari usaha pewujudan hakekat sosialnya di atas, manusia membentuk hubungan sosio-ekonomis di antara sesamanya, yakni hubungan di antara manusia atas landasan motif eksistensial yaitu usaha pemenuhan kebutuhan hidupnya (baik fisik maupun psikis). Dalam kerangka inter relasi manusia di atas motif eksistensial itulah sistem hubungan sosial terbentuk.
Usaha perealisasian motif eksistensial dalam suatu sistem hubungan sosial bersifat sangat kompleks akibat dari kuantitas dan heterogenitas kebutuhan di dalam kemajemukan manusia dengan pluralitas perbedaanya itu, oleh karena itu upaya yang dilakukan dalam kompleks inter relasi ini meniscayakan kebutuhan akan satu hal: k e t e r a t u r a n. Hanya dengan prasyarat keteraturanlah, maka usaha perealisasian motif eksistensial dari masing-masing individu manusia di dalam kebersamaan antar sesamanya dapat terwujud, mengingat bagaimanapun di sisi lain manusia masih juga berhakekat sebagai makhluk individual sehingga sebuah kepentingan pemenuhan kebutuhan hidup (motif eksistensial) seorang manusia akan berhadapan dengan kepentingan manusia lain. Konflik kepentingan ini secara alami akan mendorong manusia untuk saling berkompetisi dan saling mengalahkan di antara sesamanya, kondisi ini pada ujungnya jika dilakukan secara tidak terkendali akan melahirkan kekacauan (chaos), dan jika hal ini sudah terjadi maka justru eksistensi manusia itu sendiri yang terancam.  



Sebagaimana telah dijabarkan di atas, bahwa dengan latar belakang kompleksitas hubungan antar manusia bermotifkan kepentingan masing-masing, maka akan mendorong manusia untuk saling berkompetisi dan berebut saling mengalahkan antar sesamanya yang dapat berujung pada kekacauan. Kekacauan di sini dapat bermakna dua hal: Pertama, kekacauan dalam arti sebenarnya di mana yang terjadi bukanlah suatu tatanan sosial yang teratur melainkan pola kehidupan antar manusia yang tidak terkendali dan mengancam eksistensi manusia itu sendiri. Kedua, adalah kekacauan dalam arti semu yaitu terciptanya suatu tatanan masyarakat namun yang dijalankan tidak secara ideal melalui sistem kekuasaan yang otokratis (sewenang-wenang) sehingga walaupun individu manusia berada dalam suatu tatanan sosial namun mereka tatap merasa terancam eksistensinya.

Hukum dihadirkan untuk menciptakan keteraturan dengan mencegah atau mengatasi segala bentuk kekacauan sebagaimana di atas. Adanya inter dependensi (hakekat sosial) mendorong manusia untuk melakukan inter relasi di antara sesamanya guna merealisasikan kepentingan atas dasar motif eksistensialnya masing-masing (hakekat individual). Inter relasi dengan latar belakang inter dependensi ini memaksa manusia-manusia yang saling bertemu untuk melakukan bargaining di antara mereka demi saling terpenuhinya kepentingan eksistensial masing-masing, dan proses bargaining yang terjadi ini tidak lain adalah proses tawar-menawar di antara kepentingan-kepentingan yang saling berhadapan. Proses bargaining of interest yang ideal (fair) adalah proses tawar menawar yang bersifat equal, yaitu proses tawar-menawar oleh mereka yang berkedudukan seimbang dan yang dilakukan secara seimbang pula, sehingga proses inter relasi-inter dependensi yang terjadi bersifat saling memenuhi satu sama lain dan masing-masing pihak merasa terpuaskan oleh adanya hubungan tersebut dikarenakan kepentingan masing-masing telah dipenuhi oleh adanya pihak lawan tanpa ada satu pihak yang merasa dirugikan. Fungsi kerja dari hukum adalah menciptakan norma equality ini, yaitu dengan mengatur kepentingan-kepentingan yang saling berhadapan agar dapat bertemu secara seimbang dan agar proses bargaining atas kepentingan-kepentingan tersebut juga berjalan seimbang. Secara lebih dalam lagi, proses penyeimbangan kepentingan ini dilakuan mula-mula dengan cara penciptaan norma hak dan kewajiban atas kepentingan yang berhadapan tersebut, untuk kemudian diciptakan norma penyeimbangan atas hak dan kewajiban yang ada itu. Oleh karena itu, pada hakekatnya secara sederhana hukum tidak lain adalah pengaturan tentang hak dan kewajiban setiap individu manusia sebagai bagian dari suatu tatanan sosial masyarakat.

Penyeimbangan kedudukan kepentingan antar manusia yang saling berhadapan perlu dilakukan mengingat adanya pluralistik perbedaan latar belakang dari masing-masing manusia yang ada agar hubungan inter dependensi yang berlangsung tidak bersifat parasitisme (merugikan dan menindas salah satu pihak) akibat adanya perbedaan kekuatan sumber daya, melainkan dapat benar-benar bersifat mutualisme (saling menguntungkan secara fair).

Sehingga, mereka yang berada sebagai pihak yang lemah secara sumber daya / kekuatan sosial-ekonomisnya dapat terkuatkan dengan cara perlindungan maksimal atas hak-hak mereka, sedangkan mereka yang berada sebagai pihak yang lebih kuat sumber dayanya dapat dibatasi kekuatan dan kekuasaannya itu dengan cara penciptaan norma-norma imperatif yang bersifat limitatif seperti melalui pembebanan kewajiban-kewajiban tertentu. Di sisi lain, adanya posisi yang seimbang antar pihak yang saling berinterakasi tidak akan berarti apa-apa jika proses bargaining kepentingan-kepentingan yang ada tidak berjalan secara seimbang pula. Maka, perlu diciptakan norma penyeimbangan hak dan kewajiban di dalam masing-masing kepentingan tersebut. Setiap subyek yang telah bersepakat untuk berhubungan dengan subyek lain atas landasan pemenuhan kepentingan diri masing-masing berkewajiban memenuhi kebutuhan pihak lawan melalui pemberian sumber daya yang dimilikinya dan pada saat yang sama ia mempunyai hak agar kebutuhannya dipenuhi oleh pihak lawan atas sumber daya yang dimiliki oleh pihak lawannya itu, dan hal ini bersifat timbal balik. Terciptanya suatu inter relasi yang telah dapat bersifat seimbang dalam hubungan hak dan kewajibannya di antara manusia yang telah berkedudukan seimbang pula inilah yang dinamakan dengan istilah: k e a d i l a n. 



Dengan demikian dapat terlihat bahwa eksistensi hukum diciptakan untuk menciptakan ketertiban melalui pemenuhan keadilan di antara tiap-tiap individu di dalam masyarakat, sehingga dapat diketahui bahwa tujuan hukum yang pertama dan utama adalah memberikan keadilan secara sosial (keadilan dalam kebersamaan) bagi tiap-tiap individu di dalam tatanan sosial yang bernama masyarakat. 

Nama : Sony Novianto
NPM  : 16110655
Kelas : 1KA23

  

Manusia, Penderitaan dan Permasalahan Hidup

Masalah adalah suatu hal yang  identik dengan awal mula dari datangnya suatu penderitaan, padahal tidak semua masalah identik dengan sebuah penderitaan hidup, disini saya akan mengungkap sisi lain dari sebuah permasalahn hidup yang seringkali dilibatkan dengan penderitaan.

Masalah bukanlah musibah
Pada hakikatnya Allah memberi beban masalah pada setiap manusia tak lepas dari kasih dan sayang Nya. Bukankah Allah pernah berfirman dalam salah satu ayat Alquran? bahwa tidak akan memberi manusia beban melebihi beban yang sekiranya manusia tidak sanggup memikulnya? Itulah masalah, yang seberat apa-pun keberadaannya jangan sampai di sebut musibah. Musibah hanya pandangan manusia, yang dilihat dari sisi kelabu nya. Jika dikembalikan pada kodrat atau jalan yang telah Allah gariskan jauh sebelum kita dilahirkan ke bumi, hal itu hanya sebuah fase yang memang mau tidak mau harus manusia lewati. Jika sudah tahu bahwa itu adalah kehendak Allah semata, maka kembalikan sikap ikhlas itu pada hati yang terkadang di rundung resah dan gelisah.



Benar apa yang dikatakan oleh teman saya, manusia diberi masalah karena kasih dan sayang Allah. Manusia diberi kesempatan untuk mengeluarkan potensinya, yang terkadang tidak disadari oleh manusia itu sendiri. Manusia telah di anugerahi Allah dengan kemampuan-kemampuan yang luar biasa dahsyatnya.Saya yakin diantara kita pasti pernah memiliki hutang, baik itu berupa benda atau pun yang umum digunakan transaksi, yaitu uang. Bayangkan bahwa kita memiliki hutang yang sekian banyaknya. Pada saat yang sama si penagih atau biasa disebut debit kolektor datang menagih. Di sinilah letak puncak masalah, yang menuntut kita untuk secepat mungkin mendapatkan uang. Tentunya Allah Maha Penyayang bagi setiap umat Nya. Saat-saat itu potensi kita keluar begitu saja, secara tidak sadar kita banyak diarahkan pada hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dialami. Begitu mudah dah terkadang begitu sulit dan terjal. Tapi yakin lah bahwa semuanya akan membawa kebaikan. Amin
Saat semua masalah sudah berlalu, tinggallah potensi yang sedikit telah muncul ke permukaan. Ingat, jangan sampai potensi itu hilang begitu saja, karena tanpa tekanan seperti yang di dapat dari si debit kolektor, manusia akan kembali ke bentuk awal, malas, dan mengundang masalah baru.

Masalah membentuk kedewasaan seseorang
Analogi nya sangat mudah, seseorang yang pernah merasakan duduk di bangku sekolah tau kuliah pasti pernah atau sering menjalani ujian, baik itu ujian semester atau ujian ke lulusan. Berbagai macam pertanyaan yang diuji-kan tak lain adalah wujud sebuah masalah. Lulus dari satu ujian sama halnya dengan kenaikan tingkat. Begitu juga dengan masalah sehari-hari, pada dasarnya adalah ujian untuk meningkatkan kedewasaan. Hanya bedanya, masalah-masalah yang datang di kehidupan terkadang tidak disadari sebagai sebuah ujian, karena kelangkaan penghargaan atau award paska masalah usai.
Manusia cenderung berbangga hati apabila usaha dan kerja kerasnya mendapat penghargaan atau award. Saya sendiri berfikir bahwa penghargaan itu perlu, walau hanya sebatas pujian sederhana untuk hal-hal tertentu. Saya yakin si penerima pujian akan senang hati menerimanya, asalkan kita melontarkan nya dengan ikhlas dan tidak berlebihan.
Terus bagaimana apabila award itu tidak kunjung datang? Di sanalah letak kedewasaan kita di uji. Terkadang kita senang waktu dipuji padahal itu tidak lebih dari sekedar basa-basi. Sebaliknya kita akan emosi waktu dikritik padahal mereka mengatakannya dengan jujur. Kedewasaan itu muncul saat kita bisa menempatkan pahit nya kejujuran seseorang di atas manis nya pujian, sekali pun pujian itu teramat sangat menyejukkan. Ingatlah bahwa pujian hanya milik Allah, sementara manusia gudangnya kesalahan dan dosa.
Balik lagi ke inti persoalan, kita yang memiliki masalah, terutama masalah pribadi, tentunya kita pula yang harus berusaha keras memecahkannya. Semakin rumit suatu masalah, semakin tinggi nilai yang akan dicapai di kala semuanya telah terpecahkan. Jadi, janganlah berkeluh kesah di saat masalah sedang menimpa. Justru keadaan itu yang akan mendorong kita ke arah yang lebih baik. Sebuah tantangan yang harus dilewati untuk menunjukkan sampai di mana kemampuan dan tingkat kedewasaan kita.


Dengan masalah, hidup akan terasa lebih hidup
Maksudnya adalah, seseorang yang sedang terlelap tidur bisa dikatakan sedang terbebas dari hiruk pikuk urusan dunia. Kurang lebih seperti itulah orang yang tidak memiliki masalah. Hidupnya bebas bermimpi, berkhayal kemanapun mengikuti alam bawah sadarnya. Yang melihatnya akan menganggap bahwa dia hidup dengan tenang, seirama dengan bunyi nafasnya yang penuh harmonisasi. Tetapi saya tanyakan, apakah dengan selamanya terlelap akan menjamin sebuah kenikmatan yang hakiki (lama)? Tentu tidak kan? Ada saatnya untuk bangun. Memulai hari dengan terlebih dahulu menyelesaikan masalah dalam tubuh, entah itu minum segelas air putih, atau langsung ke kamar mandi untuk sekedar buang air kecil. Rentetan kegiatan yang dilalui sehari penuh menandakan adanya sebuah “kehidupan”. Dalam setiap kegiatan tak lepas dari sebuah masalah, atau beberapa masalah sekaligus. Seperti itulah siklus hidup manusia, senantiasa tak pernah lepas dari masalah, besar ataupun kecil. Untuk saudaraku yang sekarang ini sedang mengalami banyak masalah, jangan pernah menyerah dengan keadaan, ingatlah bahwa Alloh memberikan ujian/beban yang pasti manusia mampu untuk memikulnya. Tetaplah berusaha memecahkan dengan cara-cara yang terpuji.


Tanpa masalah, hidup manusia terasa tak lengkap, bagai sayur tanpa garam. 


Nama : Sony Novianto
NPM  : 16110655
Kelas : 1KA23

Manusia dan Kebudayaan Negara Yang Berlaku


1.Pengertian Manusia
Pengertian manusia itu relatif,ketika semua orang ditanya tentang manusia.maka jawaban meraka akan berbeda-beda.tapi menurut saya,manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibanding ciptaan lainnya.manusia mempunyai jiwa bebas dan hakikatnya yang mulia.
Pengertian manusia secara biologi adalah manusia diklasifikasikan sebagai Homo Sapiens,sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi.

Manusia adalah makhluk sosial yang memiliki hubungan antar manusia satu dengan manusia lainnya. Di dunia ini manusia tidak bisa hidup sendiri. Manusia hidup dan menetap di suatu daerah. Di daerah tersebut pun memiliki aturan dan adat istiadat tersendiri. Adat istiadat di setiap daerah pun berbeda-beda dan memiliki cirri khasnya masing-masing. 

2. Pengertian Budaya
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.

Kebudayaan merupakan yang menjadi ciri khas suatu daerah dan tidak hanya di Indonesia.  Di berbagai negara di dunia pun memiliki berbagai kebudayaannya masing-masing. Budaya timur, budaya barat, budaya utara memiliki kebudayaan yang berbeda dan memiliki cirri khasnya masing-masing. Tetapi kebudayaan luar belum tentu diterima oleh kebudayaan yang lain karena seriap kebudayaan memiliki aturannya masing-masing. Saat ini kebudayaan kita sudah mencapai ambang kritis. Warga masyarakat yang lebih mengenal dengan kebudayaan asing dibandingkan dengan kebudayaan mereka sendiri. Hal ini lah yang menyebabkan negara lain dapat mencuri kebudayaan kita. Kebudayaan kita yang sering tidak diperhatikan lalu negara lain mengambil celah untuk mempromosikan kebudayaan tersebut yang merupakan kebudayaan asli Indonesia.



Manusia Indonesia dalam hal kebudayaan saat ini mengalami berbagai rintangan dan halangan untuk menerima serbuan kebudayaan asing yang masuk lewat Globalisasi (perluasan cara-cara sosial melalui antar benua). Dalam hal ini teknlogi informasi dan komunikasi yang masuk ke Indonedia turut merobah cara kebudayaan Indonesia tersebut baik itu kebudayaan nasional maupun kebudayaan murni yang ada di setiap daerah di Indonesia. Dalam hal ini sering terlihat ketidakmampuan manusia di Indonesia untuk beradaptasi dengan baik terhadap kebudayaan asing sehingga melahirkan perilaku yang cenderung ke Barat-baratan (westernisasi). Hal tersebut terlihat dengan seringnya remaja/iIndonesia keluar-masuk pub, diskotik dan tempat hiburan malam lainnya berikut dengan berbagai perilaku menyimpang yang menyertainya dan sering melahirkan komunitas tersendiri terutama di kota-kota besar dan metropolitan. Dalam hal ini terjadinya berbagai kasus penyimpangan seperti penyalah gunaan zat adiktif, berbagai bentuk kategori pelacuran dan ‘western’ lainnya tak lepas dari ketidak mampuan manusia Indonesia dalam beradaptasi sehingga masih bersikap ‘conform’ dan ‘latah’ terhadap kebudayaan asing yang melenyapkan inovasi dalam beradaptasi dengan budaya asing sehingga melahirkan bentuk akulturasi. Bila dikaji dengan teliti hal tersebut mungkin dikarenakan ciri-ciri manusia Indonesia lama yang masih melekat seperti percaya mitos dan mistik, sikap suka berpura-pura, percaya takhyul yang dimodifikasi, konsumerisme, suka meniru, rendahnya etos kerja dan lain sebagainya bisa jadi mengakibatkan terhambatnya akulturasi (percampuran dua/lebih kebudayaan yang dalam percampurannya masing-masing unsurnya lebih tampak).






MARI KITA JAGA BUDAYA NEGRI KITA!


Nama : Sony Novianto
NPM  : 16110655
Kelas : 1KA23